Selasa, 10 Mei 2016

AADCC (Ada Apa Dengan Credit Card)

AADCC (ADA APA DENGAN CREDIT CARD)

Teringat beberapa tahun yang lalu ketika di sebuah pusat perbelanjaan ada seorang sales kartu kredit "merayu" saya untuk apply menjadi pengguna kartu kredit dr bank "A" , aiihh..betapa semua dimudahkan..."gampang kok bu, kita cuma perlu foto kopi KTP dan slip gaji, setelah itu ibu bisa berbelanja dengan menggunakan kartu ini dimana saja asal ada logo...dan bahkan bisa mendapatkan tambahan diskon jika berbelanja di tempat tertentu..". Saat itu penghasilan saya per bulannya cukup lumayan jadi saya pikir akan gampang saya membayarnya tagihan-tagihan dari bank ini. Selain itu sebagai perempuan normal yang suka (sekali) mendapat kesempatan berbelanja, saya merasa ini adalah  kesempatan yg tidak bisa disia-siakan.
Kurang lebih seminggu setelah meminta teman di bagian keuangan untuk me-mark up slip gaji yang akan diberikan ke pihak bank supaya lbh memungkinkan disetujuinya aplikasiku dan mengirimkan foto kopi ktp, akhirnya...datanglah kartu kredit yg ditunggu-tunggu.
Saat itu saya merasa menjadi manusia paling berbahagia...dan kaya.. (sok kaya tepatnya) . Saat jalan-jalan ke mall ada barang yang disuka..ambil...jalan sama teman-teman pas belum gajian bisa nraktir dong.

Nah begitu tagihan bulan pertama datang, dibayarlah tagihan itu karena nominalnya masih sedikit. Pada bulan kedua kebetulan ada pengeluaran cukup besar sehingga yang bisa dibayarkan hanya tagihan minimum. Karena memang manajemen keuanganku berantakan berbulan-bulan selanjutnya seringkali yang terbayar hanya tagihan minimum bahkan pada bulan-bulan tertentu tidak membayar hingga pada suatu saat kartu kreditku tidak bisa dipakai lagi karena sudah mencapai limit pemakaian
Dari situlah...sport jantung dimulai.. telpon dari debt kolektor ke HP bisa sampai tidak kali sehari, ke kantor, dan yang parah ke rumah orang tua yang cukup membuat ibu dan ayahku gusar.Kegusaran bukan cuma karena rasa bersalah karena tidak mampu membayar, tetapi terutama karena bahasa yang dipergunakan para penagih itu tidak semanis rayuan mereka saat pertama kali menawarkan kartu kredit itu.
Baru di situlah tersadar bahwa  membayar utang kartu kredit tidak semudah membuat aplikasinya dan tidak semenyenangkan saat menggunakannya. Terlebih lagi ketika didiamkan jumlah tagihan ditambah bunga mencapai 3 kali nominal yang kupergunakan untuk blanja blanji.  Hingga akhirnya  pihak bank memberikan tawaran kemudahan untuk membayar secara flat per bulan. Walaupun jika dijumlahkan yaa.. lumayan menyesakan dada tapi karena pembayarannya flat ya sudah.. saya jalani..alhamdulillah hingga lunas.

Demikianlah kisahku dengan kartu kredit yang tidak berakhir harmonis.. dan bahkan masih menyisakan trauma .. bahkan jika sekarang ada mas-mas yang seganteng apapun menawarkan kartu kredit di mall saya akan pura-pura sibuk atau terburu-buru dan mengabaikan mereka. Nggak deh.. I still can survive without credit card.. so what's the bother of having one..

So.. Ada Apakah Dengan Credit Card... ? Kartu Kredit adalah produk bank yang sebetulnya menawarkan kemudahan untuk penggunanya asalkan...
1. Penggunanya memang memang betul-betul membutuhkan kemudahan -kemudahan tersebut
2. Sebelum membuat aplikasi dan terjerat rayuan mas sales yang ganteng  itu calon pengguna sudah berpikir ada tidaknya alokasi dana untuk membayarkan tagihannya tanpa mengurangi pengeluaran-pengeluaran wajib setiap bulannya.
3. Tidak ,memark up slip gaji karena jika hal itu terjadi seperti yang saya dan beberapa rekan sekantor saya  lakukan, hal ini akan menjebak kita untuk mempunyai pengeluaran yang lebih besar dari pendapatan.
4. Pengguna harus benar-benar bijak menggunakannya dan disiplin membayar tagihannya.. sehingga tidak terjerat bunga pinjaman.

Agar credit card tidak menjadi serigala berbulu domba kita harus benar-benar mempertimbangkan keuntungan dan kebaikan yang didapat darinya..apakah  betul kita bisa untung atau malah buntung..